Sabtu, 22 Desember 2012

Selamat Hari Ibu, Ibu

Ibu... Ibu... Ibu...

Ibu selalu dan akan selalu menempati porsi paling banyak dalam hati.

Ibu menyeduhkan teh setiap pagi sebagai penghangat. Namun tak ada yang lebih hangat dari peluknya.
Ibu bangun setiap pagi hanya bermodalkan alarm alam, untuk menyiapkan segalanya. Setiap pagi asap dari dapur mengepul di udara dengan wewangian menggoda perut. Rumah selalu tampak rapi padahal aku membereskannya dengan jarang dan sekadar. Entah bagaimana caranya ia mengurus rumah dan kedua anaknya secara bersamaan dengan sempurna.

Aku membandel supaya tidak kehilangan perhatianmu dan tetap menjadi yang kau khawatirkan. Setiap nafasku adalah doa bahagia untukmu.

Ketika kau pulang dengan gelar terbaik di belakang nama, Ibu berterima kasih padamu padahal kau tahu tak seharusnya Ia yang berterima kasih padamu.

Ketika kau pulang dalam keadaan paling hancur, Ibu memungut serpihan yang hancur dan menatanya dengan sabar kembali.

Ketika kau pulang dalam keadaan paling hina, Ibu membelamu sekuat Ia mampu, dengan urat nadi yang menonjol di permukaan kulit.

Ketika kau pulang dalam keadaan menjijikan sekalipun, Ibu memelukmu tanpa ragu-ragu.

Ibu menerimamu dalam keadaan paling bersih atau paling kotor.

Ibu tempatmu mengadu dalam hal yang mungkin paling rahasia untuk dirimu.

Karena berapa pun usiamu dan seberapa pun besar badanmu, Ibu akan selalu menganggapmu anak kecil yang masih perlu diurus.