Kamis, 22 Desember 2011

Selamat Hari Ibu, Ibu

Aku meminjam sedikit tempat dalam raganya selama kurang lebih delapan bulan untuk tinggalku. Dibawanya aku kemanapun ia pergi. Aku makan apa yang ia makan dan aku menjadi satu dengannya.

Hingga pada hari selasa, 10 Oktober 1995 kami tak bersatu lagi. Ratih Kirana menghirup udara sendiri untuk pertama kalinya. Aku asing dengan semuanya, hingga akhirnya menangis.



Aku diasuh dan dibesarkan. Diajarkan berbicara, makan, minum, duduk, merangkak, berjalan, dan banyak sekali hal lainnya. Ia sisihkan separuh atau mungkin tiga perempat harinya hanya untuk merawat dan mengajariku banyak hal. Aku belajar berjalan. Aku terjatuh dan ia tetap berkata aku hebat. Aku belajar menulis. Ia berkata tulisanku sangat bagus. Waktu itu aku sangat senang. Kini aku tahu bagaimana tulisan seorang anak yang baru saja belajar menulis. Aku belajar memasak. Katanya masakanku enak. Aku tahu itu tak melampaui standar. Dan masih banyak lagi belajar-belajar lainnya.
 
Perempuan dengan kelahiran 1 November 1964 itu tetap sama hingga kini, walaupun aku tumbuh menjadi seorang pembangkang. Yang aku tahu, ia berkorban sepanjang ia mampu. Terkadang aku merasa benci dia, namun tidak benar-benar benci. Itu hanya ungkapan kasih dengan cara lain. Mungkin aku tak selalu ada saat ia sedih atau pun sakit, tapi hebatnya ia selalu ada saat aku sedih dan sakit. Ia tak dendam padaku. Malah, ia mengusap air mataku walau aku tak tahu bagaimana suasana hatinya, menjagaku saat aku sakit. Walau aku telah terlelap dalam tidur, ia tetap begitu menunggu dan berjaga-jaga di sampingku. Sesekali ia tertidur, kemudian terlalu cepat untuk terjaga lagi untuk mengecekku.

Dulu, ketika aku kecil, aku sangat senang menangis. Aku sangat senang memberontak. Ketika aku mimpi buruk dan terbangun, aku tak tahu mengapa ia ikut terbangun. Kemudian meraih mutlak tubuhku. Aku hangat dan kembali terlelap.
Ibuku tidak begitu pandai dan modis. Barangkali karena sibuk memerhatikanku dan menghabiskan waktu untukku sehingga tak dapat melakukan itu semua. Terima kasih. Apa pun wujud tindak baik yang kulakukan, atau bahkan nyawa pun tak becus melunasi segenapnya.
Mengapa aku tumbuh sebagai anak yang pembangkang? Karena aku ingin tetap diperhatikan dan dimanja olehnya. Aku tetap Ratih kecil Ibu yang tidak bisa apa-apa sehingga selalu memerlukan Ibu. Aku bukan Ratih besar yang mandiri, pintar, dan bisa segalanya sehingga tidak perlu bantuan.Aku bukan Ratih enam belas tahun. Aku tetap Ratih lima tahun.

Ah, ribuan aksara tak mampu menguraikan rasa yang ada. Selamat hari ibu, Ibu! Ibu adalah wanita terhebat yang ada. Pokoknya hebat!







Rainy Lunch


















Teen Bedroom




Its Like in Wonderland

Its one of place in Bali called Devine Wonderland. Its awesome place with big chair. I think, the inspiration from Alice in Wonderland movie. Bring a camera and taking a picture if you come here!